Kajian Kitab Ushulus Sunnah (Pokok-Pokok Sunnah)
1. Kajian Ushulus Sunnah1.mp3
Spiga
Friday, January 2, 2009 at 9:29 PM Posted by hfirhad
Kajian Kitab Ushulus Sunnah (Pokok-Pokok Sunnah)
1. Kajian Ushulus Sunnah1.mp3
at 4:49 PM Posted by hfirhad
Tanya Jawab:
at 3:11 PM Posted by hfirhad
Download Audio Kajian:
1. Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah
2. Ustadz Mahfudz
3. Ustadz Muhammad Hamdi
4. Ustadz Zainal Abidin
5. Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
6. Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
7. Ustadz Maududi Abdullah
8. Ustadz Badrusalam
Silahkan download.....
Kualitas suara telah diturunkan dari kualitas aslinya untuk kepentingan transfer via internet. Silahkan membeli CD aslinya untuk kualitas audio yang lebih baik atau menghubungi kami.
Disebarkan untuk kepentingan dakwah, tidak untuk komersial.
Semoga audio ini dapat menjadi salah satu amalan shalih yang tetap terus mengalir untuk Ustadz pembawa materi. Amin ya Rabbal 'Alamin.
Labels: Audio 0 comments
Tuesday, December 2, 2008 at 7:59 PM Posted by hfirhad
Assalamu’alaikum,
Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…
Wahai anakku,
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…
Wahai anakku!
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.
Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi…
Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.
Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu gembira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.
Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.
Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air ke kerongkonganku.
Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.
Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu… itulah kebahagiaanku!
Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.
Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.
Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.
Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.
Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.
Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.
Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.
Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu!!
Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.
Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit… Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu… Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.
Sekiranya engakau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!?
Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman, “Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?!” (QS. Ar Rahman: 60) Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!
Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?! Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?
Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantumu . Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang layak untukku wahai anakku!
Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta’ala mencintai orang yang berbuat baik.
Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.
Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki supel, dermawan, dan berbudi.
Anakku… Tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?!
Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana dalam hadits: “Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!” (HR. Ahmad)
Anakku. Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.
Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia? Beliau bersabda: “Shalat pada waktunya”, aku berkata: “Kemudian apa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Berbakti kepada kedua orang tua”, dan aku berkata: “Kemudian, wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”, lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih)
Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.
Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah ta’ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?
Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang”, dikatakan, “Siapa dia,wahai Rasulullah?, Rasulullah menjawab, “Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga”. (HR. Muslim)
Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada dokter yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku… Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.
Bangunlah Nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan al jaza’ min jinsil amal… “Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…” Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu pula kepadamu.
Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.
Wassalam,
Ibumu
Diketik ulang dari buku
‘Kutitip Surat Ini Untukmu’
karya Ustadz
Armen Halim Naro, Lc rahimahullah
Friday, November 21, 2008 at 8:32 PM Posted by hfirhad

Pemateri: Ust. Armen Halim Naro, Lc. Rahimahullah
VCD: Ceramah Bedah Buku “Untukmu yang Berjiwa Hanif”
Isi: 2 CD
Rasanya semua orang sepakat dengan tujuan hidup yaitu mencari dan menggapai kebahagiaan. Semua manusia menginginkan hidupnya bahagia, dan semua tahu bahwa untuk menggapainya diperlukan pengorbanan. Hanya saja, manusia banyak salah dalam mencari jalan kebahagiaan, banyak yang memilih sebuah jalan hidup yang ia sangka disana ada pantai kebahagiaan, kiranya hal itu merupakan jurang kebinasaan, itu hanya sebatas fatamorgana kebahagiaan, bukan kebahagiaan yang hakiki. Celakanya lagi, semakin dilalui jalan fatamorgana tersebut semakin jauh pula ia dari jalan kebahagiaan hakiki, kecuali ia surut kembali ke pangkal jalan.
Banyak orang menyangka kebahagiaan ada pada harta, karenanya ia berupaya mencari sumber-sumbernya dengan berletih dan berpeluh. Setelah memperoleh harta tersebut, ia tetap gundah dan perasaan masih gelisah!! Ada saja yang membuat hati itu gelisah, kadang-kadang munculnya dari anak-anaknya, dari isterinya atau tak jarang juga datang dari usaha itu sendiri.
Banyak pula yang menyangka bahwa pangkat, jabatan dan kekuasaan adalah kebahagiaan. Ketika dilihat mereka yang berkuasa dan bertahta, secara lahiriyah mereka tampak begitu bahagia hidupnya! Pergi dijemput pulang diantar, ketika ia berkehendak tinggal memesan, perintahnya tidak ada yang menghalangi. Akan tetapi setelah diselidiki lebih mendalam, kita masuk menembus dinding istananya, akan terdengar keluhkesahnya, dalam tahta yang tinggi itu terdapat jiwa yang rapuh.
Jadi apa kebahagiaan yang sebenarnya? Apa kebahagiaan sejati yang harus dicari oleh manusia? Siapa yang sebenarnya orang yang bahagia? Apa sarana untuk mencapainya?
Ketika hati dan jiwa berada dalam kubangan lumpur dosa, terseok-seok dalam parit, jauh dari jalan-Nya yang lurus maka cahaya hidayah tertutup semakin menebal. Tetapi dalam jiwa yang hanif, ada seberkas cahaya yang mampu untuk membuka pintu hidayah yang menghantarkan kembali ke dalam keridhaan Allah.
Bagaimanakah jiwa yang hanif membuka pintu hidayah?
Ketika jejak-jejak kasih sayang Allah sudah mulai tampak di halaman kalbu, awan mahabbah dan kabut cinta Allah sedang datang berarak di langit hati, pertanda rahmat hidayah akan turun menyirami taman jiwa. Tidak berselang lama, akan tumbuh fitrah yang suci, hadir perasaan tunduk dan patuh pada kebenaran, timbul motivasi semangat untuk kebahagiaan bisa direngkuh kembali.
Allah berfirman: “Dan orang-orang yang berjuang dalam jalam Kami, akan Kami beri mereka hidayah menuju jalan-jalan kebaikan Kami”. (QS. Al-Ankabut:69)
Sekiranya hidayah itu di biarkan saja, tidak diolah dengan benar bahkan sering ditelantarkan dan dilalaikan, pasti ia berlalu dan meninggalkannya dalam kesendirian menyebabkan ia harus menunggu pada sebuah penantian yang tidak berkesudahan, Allah berfirman:
“Ketika mereka menyelewengkan dari jalan kebenaran, Kami selewengkan hati mereka.” (QS. As-Shaf:5)
Tidak ada pilihan lain bagi seorang hamba kecuali melanjutkan pencarian dan memperkokoh keyakinan. Karena bangun dari kelalaian merupakan langkah awal dari sebuah perjalanan menuju shirathul mustaqim. Jalan yang telah ditempuh oleh para Nabi dan Rasul, orang-orang shiddiq, para syuhada, dan orang-orang yang shalih. Itu pula yang telah dilalui oleh Rasulullah Shalallahu’Alaihi wa sallam dan para sahabatnya.
Tema bahasan ini adalah:
- Untuk mereka yang mempunyai fitrah yang lurus dan hati yang hanif….
- Untuk mereka yang haus akan Ilmu Al-Qur’an dan As Sunnah….
-Untuk mereka yang sedang menempuh jalan yang ditempuh oleh Salman Al-Farisi dan Waraqah bin Naufal ….
- Untuk mereka yang hendak menggapai kejayaan dan mendulang keemasan...
Monday, November 3, 2008 at 9:45 AM Posted by hfirhad
Tujuan:
Membentuk Generasi Thalibul Ilmi Yang Bermanhaj Salaf dalam Beraqidah, Beribadah, Berakhlak, Bermuamalah, dan Berdakwah.
Visi:
Menjadi Lembaga Pendidikan dan Dakwah Islam Bermanhaj Salaf yang Unggul dan Amanah.
Misi:
Mengemban Risalah Dakwah Melalui Jalur Lembaga Kaderisasi Ilmiah Berbentuk Pondok Pesantren yang Bermanhaj Salaf
Sekretariat:
Jl. Raya Solo - Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Karanganyar 57183 Solo. Telp. (0271) 858199 Fax. (0271) 858196, HP 081393099045, 081329776541. http://www.bukhari.or.id Email: pondok@bukhari.or.id
MUQODDIMAH
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 100)
Pada saat ini, lahirnya generasi yang benar-benar bertakwa dan kuat ilmunya terhadap al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih, merupakan keniscayaan. Sebab merekalah yang kelak diharapkan akan membimbing serta mengarahkan ummat menuju kehidupan yang bersih, takwa dan islami sesuai dengan manhaj Ahlu Sunnah wal Jama’ah.
Maka untuk maksud itulah, Pondok Pesantren Imam Bukhari memberikan kesempatan kepada para orang tua, memasukkan putra-putrinya untuk dibimbing dan dididik mempelajari dienul Islam secara benar dengan manhaj Ahlu Sunnah wal Jama’ah.
Pondok Pesantren Imam Bukhari menerapkan pola pendidikan Islam yang bertitik tekan pada tasfiyah dan tarbiyah, tasfiyah berarti memurnikan ajaran Islam dari segala noda syirik, bid’ah, khurafat, gerakan-gerakan dan pemikiran-pemikiran yang merusak Islam. Tarbiyah berarti mendidik kaum muslimin menjadi terbiasa mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang sudah dipahami secara benar.
Hafalan Qur’an adalah Program Unggulan Pondok Pesantren Imam Bukhari yang diterapkan di program Ibtida’iyyah Tahfidzul Qur’an. Diharapkan santri mempu menghafal 30 juz al-Qur’an selama 6 tahun. Penguasaan terhadap ilmu-ilmu pokok agama islam seperti Aqidah, Fiqih, Hadits, Tafsir dan ilmu-ilmu alat lainnya, juga merupakan program yang sangat ditekankan. Disamping itu juga memberikan kesempatan kepada setiap santri untuk mendapatkan ijasah pemerintah dengan menjalin kerja sama dengan Diknas melalui Program Pendidikan Kesetaraan, sehingga santri mendapat peluang untuk melanjutkan belajar pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
PROGRAM PENDIDIKAN
Program Ibtidaiyah Tahfidzul Qur’an (Setingkat SD) 6 tahun Putra dan Putri (terpisah)
A. Target:
B. Ijasah
Program Ibtidaiyyah, di samping mengeluarkan ijazah khusus pesantren, juga mengeluarkan ijazah Negara (melalui Program Pendidikan Kesetaraan Paket A)
Program Mutawasithah (setingkat SLTP) berlanjut Tsanawiyah (setingkat SMU) 6 Tahun Putra dan Putri (terpisah)
A. Target Mutawasithah:
B. Ijasah
Program Mutawasitah, di samping mengeluarkan ijazah khusus pesantren, juga mengeluarkan ijazah Negara (melalui Program Pendidikan Kesetaraan Paket B)
Program Tsanawiyah (setingkat SMU Lanjutan dari Mutawasithah) Putra dan Putri (terpisah)
A. Target Tsanawiyah:
B. Ijasah
Program Tsanawiyyah, di samping mengeluarkan ijazah khusus pesantren, juga mengeluarkan ijazah Negara (melalui Program Pendidikan Kesetaraan Paket C).
Ijazah khusus pesantren, sedang dalam proses muadalah/akreditasi oleh Jami’ah Islamiyah Madinah An Nabawiyah KSA, dan akan terus diusahakan untuk bisa diakui di beberapa perguruan tinggi, dalam maupun luar negri
Progam I’dad Lughawi 1 tahun Putra dan Putri (terpisah)
Tujuan:
Menjaring lulusan SMP/SLTP/MTS/Sederajat putra putri untuk dipersiapkan masuk program Tsanawi
Target:
Program I’dad Muhafidz Putra dan Putri (terpisah) GRATIS
Tujuan:
Program ini dibuka sebagai pendidikan calon guru hafalan al-Qur’an. Dan program ini merupakan program Ikatan Dinas. (bebas biaya pendidikan)
Target:
KEGIATAN EKSTRA KURIKULER
PROGRAM BEASISWA
Pondok Pesantren Imam Bukhari memberikan beasiswa kepada santri yang meraih prestasi dengan predikat istimewa. Beasiswa ini diberikan selama santri bersangkutan dapat mempertahankan prestasinya.
FASILITAS
Masjid Jami’ kapasitas 500 jama’ah, Masjid khusus putri, gedung belajar dan asrama, ruang makan, pelayanan kesehatan 24 jam, wartel 24 jam, klinik gigi, ketrampilan komputer dan las listrik (putra), ketrampilan menjahit dan tata boga (putri), Laboratorium bahasa, pakaian dicucikan (program Ibtida’iyyah), Olah raga (volly ball, tenis meja, bulu tangkis, bela diri Tifan Po Khan) waserba, ruang kegiatan santri (OSPIM) dan penerbitan buletin ilmiah santri AL-ILMU, dll
TENAGA PENDIDIK
Alumni Timur Tengah, Pakistan, LIPIA, Pesantren, Hafidz dan Hafidzah, Perguruan Tinggi, dan tenaga-tenaga ahli lainnya.
PRESTASI HAFALAN AL-QUR’AN
JADWAL
Waktu Pendaftaran dan Tes seleksi (one day service)
Pengumuman
Daftar Ulang
Serah Terima Santri Baru: 04 Juli 2008
Orientasi Santri Baru: 05 - 10 Juli 2008
Tempat Pendaftaran dan Tes Seleksi
Pondok Pesantren Imam Bukhari Jl. Raya Solo-Purwodadi Km. 8 Selokaton, Gondangrejo, Karanganyar 57183-Solo Telp. 0271-858199, Fax. 0271-858196 HP 081393099045, 081329776541.
KRITERIA KELULUSAN
SELEKSI
Materi tes seleksi meliputi:
Tes Lisan
Program Ibtida’iyya: Baca Iqra’, baca latin, wawancara anak dan orang tua, pemeriksaan kesehatan
Program Mtw/I’dad Lughawi: Baca al-Qur’an, wawancara anak dan orang tua pemeriksaan kesehatan.
Program I’dad Muhafidz: Baca al-Qur’an, wawancara anak, pemeriksaan Kesehatan.
Tes Tulis
Program Mtw/I’dad Lughawi: Pengetahuan Agama, Matematika dan Bahasa Indonesia
ONE DAY SERVICE (Mendaftar langsung tes)
Tes seleksi dilaksanakan pada saat pendaftaran (one day service), calon santri yang baru datang mendaftar di Ma’had Imam Bukhari sekaligus dilaksanakan serangkaian tes seleksi.
SYARAT-SYARAT PENDAFTARAN
Syarat-Syarat Umum
Syarat-Syarat Khusus
Program Ibtida’iyah Tahfidzul Qur’an:
Program Mutawasithah:
Program I’dad Lughawi
Program I’dad Muhafidz (Ikatan Dinas)
AWAL TAHUN PELAJARAN
LOKASI PESANTREN
Catatan:
Informasi lebih lanjut hubungi:
Telp: 0271-858199, HP 081393099045, 081329776541
Fax: 0271-858196
Website: http://www.bukhari.or.id
E-mail: ppsbppib@yahoo.com atau pondok@bukhari.or.id
Sumber: www.muslim.or.id
at 9:36 AM Posted by hfirhad
PENDAHULUAN
Islamic Centre Bin Baz (ICBB), Pondok pesantren di bawah Yayasan Majelis At Turots Al Islamy Yogyakarta ikut berpartisipasi membina dan menyiapkan generasi islam yang lurus akidahnya, berakhlak mulia, dan senantiasa meneladani jejak Rasulullah dan para Salafush Shalih.
Materi pelajaran yang diajarkan adalah hafalan Al Qur’an, Bahasa Arab, pelajaran diniyah dan pelajaran umum yang diberikan secara proporsional. Dengan cara tersebut para santri diharapkan mendapatkan bekal yang cukup, duniawi maupun ukhrawi.
Pelajaran diniyah meliputi pelajaran Tahfizh Al Qur’an, Akidah, Ibadah, Akhlak, Fikih, Hadits, Tarikh Islam, Bahasa Arab, dll. Kurikulum pelajaran diniyah yang dipakai adalah gabungan kurikulum Timur Tengah dengan kurikulum pondok pesantren.
Pelajaran umum meliputi semua pelajaran yang diujikan secara nasional. Santri Salafiyah Ula dan Salafiyah Wustha (tingkat SD dan SLTP) mengikuti PROGRAM WAJAR DIKDAS 9 TAHUN (singkatan: Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun) yang dikelola oleh Departemen Agama bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional, sedangkan santri Salafiyah Aliyah (tingkat SMU) mengikuti Program Paket C. Lulusan Program Paket C mendapatkan ijazah setara SMU dari Pemerintah yang dapat digunakan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi, negeri maupun swasta, baik di dalam ataupun di luar negeri.
Jadi, para lulusan Pondok Pesantren Islamic Centre Bin Baz mendapatkan 2 ijazah, yaitu dari Pondok Pesantren dan dari Pemerintah. Ijazah pada jenjang Salafiyah Aliyah sedang dalam proses pengajuan mu’adalah/akreditasi ke Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, dengan harapan agar kelak para lulusan kita mudah untuk masuk ke universitas tersebut.
Dalam usaha meningkatkan mutu dan kualitas dalam segala bidang, sistem manajemen Pondok Pesantren Islamic Centre Bin Baz sedang berusaha diselaraskan dengan standar manajemen internasional ISO 9001:2000.
JENJANG PENDIDIKAN
Keterangan:
TENAGA PENGAJAR
Para hafizh/hafizhah (29 orang), alumni Timur Tengah (9 ustadz lulusan Universitas Islam Madinah & Universitas Imam Muhammad Ibnu Saud Riyadh), lulusan magister Universitas di Pakistan (1 orang), LIPIA (2 ustadz), IAIN, UGM, IKIP, UNHAS, UII, UAD, Pondok Pesantren, dan lain-lain.
FASILITAS
KEGIATAN BELAJAR
PROGRAM UNGGULAN
Program Tahfidz Al-Qur’an untuk semua jenjang.
Catatan Prestasi
PROGRAM PENUNJANG
PENDAFTARAN
1. Syarat-Syarat Pendaftaran
A. Umum
B. Khusus
1. Jenjang RA / TK
2. Jenjang SU / SD
3. Jenjang SW / SMP
4. Jenjang Takhasus / Persiapan masuk SMA
5. Jenjang SA / SMA
6. Jenjang Ma’had Ali
WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN
Waktu : 10 April – 17 Juni 2008
Tempat Pendaftaran : Pondok Pesantren Islamic Centre Bin Baz atau di perwakilan daerah
Perwakilan daerah:
Lampung 1 (Ust. Kaelani 081540838501), Lampung 2 (Ust. Asmuni 081541032787), Riau (Ust. Urfa 081537503770), Aceh 1 (Ust. Edi Suwanto 081325714293), Aceh 2 (Samir Abdullah 081360065883), Kalimantan Barat 1 (Ust. Makful 081345524387), Kalimantan Barat 2 (M. Fadli 08164997834), Medan (Ust. Abdul Fattah 0819614010), Batam (Ust. Sutarno 08192237915), Cikande, Banten (Ust. Suparno 085885783660), Bekasi (Ust. Supriyanto 08159387334), Banyuwangi (Ust. Sonhaji 081332196815)
SELEKSI, PENGUMUMAN & PENDAFTARAN ULANG
MATERI TES
ACARA ORIENTASI & AWAL BELAJAR
Masa Orientasi Santri : 9 & 10 Juli 2008
Awal Belajar : 13 Juli 2008
BIAYA PENDIDIKAN
1. Uang Pangkal
Santri asrama : Rp 2.000.000,00
Santri non Asrama : Rp 500.000,00
Mahasiswa Ma’had Ali: Rp. 1.000.000,00
2. SPP perbulan
Santri RA
a. Rp. 15.000,00 b. Rp. 20.000,00
Santri asrama ( SU - SA )
a. Rp 300.000,00 b. Rp 350.000,00
c. Rp 375.000,00 d. Rp 400.000,00
Santri non asrama SU
a. Rp 20.000,00 b. Rp 30.000,00 c. Rp 40.000,00
Santri non asrama SW - SA
a. Rp 30.000,00 b. Rp 40.000,00 c. Rp 50.000,00
Mahasiswa Ma’had Ali Rp. 150.000,00
3. Uang Buku *)
SU : Rp 39.000,00
SW : Rp 155.500,00
Takhasus : Rp 262.000,00
SA : Rp 295.000,00
Ma’had Ali : menyusul
Catatan:
* Harga perkiraan; bila kurang wali santri menambah, bila lebih dikembalikan.
4. Uang Ekstra Kurikuler menyusul dan disesuaikan dengan ekstra yang dipilih
INFORMASI
Keterangan lebih lanjut, silakan hubungi: